Perkenalkan, namaku Melati. Aku merasa aku yang paling cantik disini, diantara jenis-jenis tanaman lain. Tapi sungguh sangat disayangkan, bila kecantikan ku ini seringkali pudar begitu saja, Aku sering sakit-sakitan. Penyakitku ini sering membuatku sendiri, Bunga-bunga yang lain tak mau berteman dengan ku. Karena aku pendiam dan lemah, aku merasa tak mampu untuk beradaptasi dengan teman-temanku yang lain.
Sampai suatu ketika, aku bertemu kaktus. Aku tak mampu untuk berdekatan dengannya. Melihat rupanya saja membuatku ngeri. Tengoklah duri-duri yang menempel di badannya. Rasanya tak sangguh berdekatan dengannya. Siang hari yang panas itu, aku sungguh merasa lemas. Melihat matahari menghisap habis seluruh persediaan cadangan makananku. Ah, aku tak bisa berbuat apa-apa. Tapi, sesaat aku merasa teduh. Panas matahari tersebut seakan-akan hilang. Ternyata, kaktus melindungiku dari matahari tersebut.
"Terima kasih, kaktus" jawabku kepadanya
"Kau terlihat pucat, sayang sekali kecantikamu tertutupi oleh badanmu yang lemah. Mulai sekarang aku akan jadi pelindungmu. Badanku kuat, walaupun bentukku menyeramkan. Aku sudah terbiasa dengan sinar matahari yang lebih panas dari ini."
Sejak saat itu, aku begitu dekat dengan kaktus. Berkatnya, aku dapat berteman dengan tanaman-tanaman lainnya, Dia membuatku teduh, selalu menyemangatiku. Dapat membuatku tertawa dan bahagia.
![]() |
| Ketika Melati Jatuh Cinta |
Sungguh aku begitu bahagia. Apa aku mencintainya? Seorang Melati mencintai Kaktus yang berduri? menyeramkan? Seketika aku berusaha menutupi perasaanku. Egoku sungguh besar untuk mengatakan yang sebenarnya. Aku perlahan-perlahan mulai menjauhi Kaktus. Bukannya tanpa alasan, aku menjauhinya karena aku tak sanggup lagi berdekatan dengannya. Membuat ku berdebar bukan kepalang. Kaktus kemudian mendekatiku, menanyakan kenapa aku mendadak menjauhinya.
"Mel, aku merasa kau menjauhiku. Apa ada sesuatu kesalahan ku yang membuat kau berubah. Katakan saja Mel, kita kan bersahabat."
Apa yang bisa aku katakan, demi cahaya matahari yang terik. Aku tak sanguup menyakiti hatinya, tetapi hatiku sungguh sakit bila berdekatan dengannya.
"Kita sebaiknya tak usah berteman lagi. Duri-durimu nanti akan menyakiti badanku yang sempurna ini." aku pun langsung pergi menjauhinya
Beberapa hari terlewati, aku sedih akhirnya kaktus benar-benar menjauhiku. Tapi mengapa aku sedih? Toh itu bagus kan, supaya aku cepat melupakan kaktus. Siang hari itu sungguh terlalu panas, aku seperti tak sanggup lagi untuk bertahan. Kelopakku ada yang patah dan bunga-bunganya menjadi layu. Akarku sudah tak sanggup lagi untuk menopang batangku. Mungkin saatnya aku tak bisa berjumpa lagi dengan kaktus. Aku harus meminta maaf kepadanya dan mengatakan semuanya sebelum terlambat.
Niat baikku akhirnya terkabulkan. Kaktus pun mendatangiku dan menanyakan bagaimana kabarku. Dia tampak khawatir melihat keadaanku. Aku ingin sekali mengatakan kepadanya bahwa aku ingin meminta maaf atas apa yang aku lakukakn kepadanya dan mengungkapkan alasan atas sikapku selama ini.
"Kau, apakah tak apa. Bunga-bungamu semakin layu. Akan kucarikan air untukmu"
"Terima kasih. Tak usahlah. Aku tahu pada saatnya itu tiba. Aku beruntung diberi kesempatan hidup beberapa bulan ini. Dan dapat berjumpa denganmu. Aku meminta maaf atas apa yang kulakukan, biarlah seluruh tubuhku akan hancur disapu angin. Tetapi ingatlah, aku akan selalu menjadi mataharimu, yang selalu menyinarimu. Selalu bersamamu."
"Mel, bertahanlah sebentar. Hujan akan turun, dan kau akan sehat kembali. Percayalah."
Sambil melindungi tubuhku dari sinar matahari dia selalu menyemangatiku. Aku tahu itu tidak mungkin, hujan akan turun beberapa bulan lagi. Dan aku sudah tak sanggup lagi untuk bertahan. Tetapi, ada satu hal yang belum aku katakan, Demi matahari siang ini aku sungguh mencintainya. Tapi badanku semua telah layu, kelopak-kelopak indah sudah jatuh dan tertiup angin.
Biarlah rasa ini akan tersapu oleh angin. Aku akan selalu menjadi sinar matahari untuk memberi kekuatan, menjadi angin untuk memberi kesejukan. Untukmu, Kaktus.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar